Mursyid IM: Beri Sanksi Israel Kewajiban Umat Islam


[ 10/04/2010 – 02:10 ]

Detikworld-Kairo – Infopalestina: Mursyid Ikhwanul Muslimin Dr. Muhammad Badi’ menegaskan, perjanjian damai Cam David sudah kehilangan syarat dan ia tidak sesuai dengan hukum Islam serta tidak mengapresiasi kepentingan umat. Bahkan, tegas Badi’, perjanjian itu mengkristalkan kerusakan dan tragedy bagi umat, penuh ketidakjelasan draft dan tujuannya. Namun demikian tidak berarti deklarasi perang setelah gagalnya perundingan ini.

Dalam risalah pekanan dengan tajuk “Kewajiban Berdamai dalam Islam” Badi’ menegaskan, membela diri, keluarga, harta, Negara dan agama, orang lemah, membalas tindakan permusuhan, menjaga Islam dari konspirasi dan makar musuh Islam atas nama perjanjian damai bukan berarti deklarasi perang. Namun yang wajib dilakukan adalah member sanksi dan pelajaran kepada mereka melanggar perjanjian dan menyelamatkan sebagian umat yang terdlalimi.

Ia menambahkan, “Setelah lebih dari 31 tahun penandatanganan perjanjian Cam David, perang spionase yang lebih massiv dari perang militer dalam hal menghancurkan budaya, ekonomi, social dan keilmuan, setelah lebih dari 31 tahun, tanah Palestina tidak kembali. Bahkan kita melihat rumah-rumah semakin banyak dihancurkan, pembangunan pemukiman yahudi semakin marak dan juga yahudisasi Al-Quds,”

“Setelah 31 tahun gurun Sinai tidak dikembalikan ke Mesir kecuali hanya secara formalitas. Apalagi sebagian pengamat politik menilai perjanjian Cam David itu tidak menerapkan normalisasi dengan Israel secara penuh sebab hanya mengharuskan satu pihak saja tanpa pihak lain. Hubungan itu masuk dingin dan penuh ketegangan. Israel masih mempermainkan bangsa Arab, terutama Mesir. Israel juga masih menolak menadatangani perjanjian larangan nuklir yang bisa mengancam keamanan Mesir.”

Dr. Badi’ menegaskan, perdamaian dalam Islam adalah landasan gerakan umat. Di malam dimana kedamaian menaungi, turunlah Al-Quran, penghormatan Allah kepada hamba-Nya adalah keselamatan dan kedamaian, nama Allah di antaranya adalah As-Salam (Yang Memberikan Kedamaian), karenanya, umat Islam tidak akan menolak ajaka berdamai. Namun perjanjian damai yang mengekang tangan dan kaki umat Islam bukanlah perdamaian yang bisa mewujudkan harapan. Ia hanya perdamaian dlalim yang didasarkan kepada konsensi-konsesi.

Badi’ meminta agar umat melepaskan diri dari perjanjian damai karena pelanggaran yang dilakukan Israel dengan cara menggelar perang terus menerus, melakukan permusuhan atas Gaza, membunuh elit perlawanan, menyiapkan dengan baik menghadapi ancaman militer Israel, komitmen dengan takwa dan berbekal dengan kesabaran dan mendukung perlawanan.
“Dengan ketegaran, teori ketakutan akan hancur, batu akan lebih kuat dari alat militer itu terbukti dalam Intifadhah I dan II, dan dalam agresi Israel ke Jalur Gaza. Kemenangan tidak mustahil selama perlawanan berlanjut. Dengan ketegaran, perang urat syaraf akan hilang. Kita akan dukung kesatuan perlawanan Palestina. Dengan ketegaran menghadapi penjajah Israel inilah perdamaian hakiki akan diwujudkan,” tegas Badi’ (bn-bsyr)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: