Menakar Keseriusan Konferensi Al-Quds


[ 05/04/2010 – 09:20 ]

Usamah Hamdan

Detikworld-Ada sejumlah lembaga Al-Quds di tataran resmi Arab maupun rakyat yang hampir-hampir tidak mengenal kecuali hanya sedikit tentang realitas yang terjadi di wilayah suci Al-Quds.

Sejumlah konferensi Al-Quds yang menghadirkan sejumlah pakar, ulama dan politisi pun tidak ada satupun yang menyentuh Al-Quds maupun tempat suci ummat secara langsung.

Di tingkat resmi misalnya, hanya menghasilkan himbauan terhadap dunia internasional untuk mendesak Zionis agar menghentikan pelanggaranya terhadap Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha. disamping tindakanya yang terus beruapaya meyahudikan tempat suci ditengah penggalian terowongan di bawah Al-Aqsha. Demikian juga dengan kebijakan mereka yang terus menghancurkan rumah-rumah penduduk Arab yang berada di sekeliling Al-Aqsha, demi mengusir penduduk asli Al-Quds digantikan warga Zionis di sekelilingnya.

Sementara itu, sejumlah lembaga tidak resmi atau non pemerintah pun menggelar sejumlah konferensi yang isinya tak jauh beda, menghimbau rezim-rezim Arab untuk bergerak menyelamatkan Al-Quds. Mereka juga menyerukan dunia internasional untuk berbuat yang sama. Namun masyarakat internasional tidak mau bergerak karena tekanan yang sama dari sejumlah negara besar yang juga menekan negara-negara tersebut untuk tidak bergerak.

Betul memang ada sebagian rezim Arab yang sangat terikat dengan Amerika Serikat, sehingga iapun tidak bisa berbuat banyak. Hampir-hampir masalah Al-Quds hanya ada di mimbar-mimbar khutbah yang resmi maupun tidak resmi yang mengecam pelanggaran Zionis terhadap Al-Quds dan tempat suci ummat. Namun pidato resmipun tidak menghasilkan apa-apa.

Demikianlah Al-Quds hanya hadir di khutbah-khutbah, pernyataan atau rekomendasi dari sejumlah KTT ataupun pertemuan yang dilakukan. Semunya baru di tataran kata-kata, belum ada ada realisasi serius. Sementara Al-Quds sangat butuh realisasi untuk menyelamatkannya dari virus yahudisasi dan melindunginya dari konspiratif dunia internasional. Namun tidak mungkin realisasi ini muncul begitu saja, tanpa ada tekanan yang berpengaruh siginifikan untuk mendesak Zionis agar menghentikan aksinya di Al_Qudas maupun tempat sucinya.

Kehadiran masalah Al-Quds dalam setiap khutbah/pidat ataupun pernyataan resmi seperti terjadi dalam beberapa decade kemarin, sejak Zionis menjajah Al-Quds. Padahal pada saat yang sama, slogan jihad terus dikumandangkan demi melindungi Al-Quds, mulai dari seruan damai hingga menjadi persnyataan resmi di tingkat pemerintahan maupun negara. Seolah-olah perdamaian dengan Zionis sudah menjadi keharusan dan setrategi pilihan satu-satunya.

Ada yang mengatakan, adanya satu lembaga atau lebih ditingkat masyarakat untuk Al-Quds menunjukan keseriusan mereka terhadap masalah Al-Quds. Sejumlah konferensi yang membahas masalah Al-Quds yang masih menjadi prioritas utama dalam melinudngi Al-Quds dalam memori maupun nurani. Ini betul, namun mencukupkan diri denagn hal tersebut, merupakan suatu kekurangan dan tentu tidak akan dapat menyelamatkan Al-Quds. Namun konsentrasi seruan terhadap para rezim Arab untuk bergerak melakukan kewajibanya terhadap Al-Quds dan tempat suci ummat disertai catatan panjang interaksi rezim-rezim tersbeut dalam masalah al-Quds pada sejumlah pernyataan maupun seruan dan pertemuan, tidak dapat menghasilkan apa-apa.

Mungkin saja sebagian orang berpendapat, konferensi di tataran rakyat dapat menghasilkan sesuatu. Akan tetapi tentunya gerakan ditingkat resmi Arab lebih mampu untuk menggerakan masalah al-Quds, ketimbang pidato-pidato ataupun pernyataan resmi negara. Ia bisa menggunakan segala macam bentuk tekanan yang memungkinkan untuk dijadikan alat untuk menegaskan hak serta masalah Al-Quds di tingkat pemerintahan Arab maupun Islam.

Ada beberapa isu yang dibahas dalam sejumlah pidato, pernyataan ataupun pertemuan dapat menjadi fokus konferensi seperti hak kembali. Namun hasil dari semua ini tidak berbeda dari apa yang didapat dalam konferensi terkait Al-Qud dan tempat sucinya.
Di mata beberapa orang langkah ini masih penting dilakukan walaupun tidak cukup, karena paling tidak untum mempertahankan hak-hak ahl-Quds dalam nurani maupun memori.
Namun begitu sejumlah orang berpendapat, pelestarian hati nurani dan memori, tidak dapat membenarkan hak dan tidak dapat menghapuskan kezaliman ataupun ketidak adilan. Langkah tersebut tidak lebih hanyalah untuk membebaskan dari tanggung jawab sejarah saja. (asy)

Al-Khaleej Times

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: